Kamis, 14 Agustus 2014

MENJUNGKIR BALIK LOGIKA NIKAH

"saya ingin nikah tapi setelah lulus kuliah, sudah bekerja, dan sudah hidup mapan. Apakah itu salah?"

Saat diajukan nasihat untuk menyegerakan nikah, banyak yang beralasan. Nunggu lulus kuliah, nunggu kerja, nunggu mapan, nunggu kaya, dan lain lain padahal lihatlah Rasul menasihatkan, siapa yang menikah dalam rangka mengapai ridha Allah, maka Allah yang akan turun tangan untuk meluluskan, mengayakan, memapankan, mencukupkan, mensukseskan.

Jadi mari kita balik logikanya. Bukan nunggu sukses dulu baru menikah, tapi menikahlah, insya Allah lebih cepat mengapai kesuksesan . Bukan kayak dulu baru menikah, tapi menikah dulu, insya Allah akan dimudahkan Allah mengapai kekayaan.

Nunda nikah karena karier? Nikah itu ngelancarin rezeki, bukan malah menghambatnya. Nunda karena ingin fokus belajar? Yeee.. Belajar itu wajin seumur hidup, mau nggak nikah seumur umur? Nunda nikah sampai mapan? Iya kalau mapan, kalau nggak mapan mapan? Sudahlah. Nikah itu mensukseskan, mengayakan, menenangkan, memapankan.

Kita pastu pernah mendengar kalimat seperti ini, "Jangan buru buru menikah di usia muda. Karena pasangan muda lebih sering bertengkar, pasangan muda lebih mementingkan egonya masing masing." untuk menjawab dalih tersebut, kita cukup membuktikan dengan banyaknya pasangan muda yang hidupnya sanggat bahagia dan akhirnya langgeng sampai mereka tua. Hal tersebut mengungkapkan pada kita bahwa kedewasaan emosional tidak disebabkan oleh kalkulasi usia. Skala kematangan dan kedewasaan seseorang tak ditentujan oleh usia. Kalau kita renungkan, bukankah kebanyakan pasangan yang memutuskan untuk menikah muda telah siap dari sisi pemikiran, sikap, dan kematangan tanggung jawab akan masa depan?

Ada pula yng mengungatkan kepada anak muda yang memutuskan masa lajangnya di usia muda dengan kalimat begini, "Jangan nikah dulu, kuliah saja dulu diselesaikan , lalu menitu karier dulu yang baik. Baru mikir nikah." Ya, banyaj orang, terutama orangtua yang ridaj menguzinkan anak-anaknya menikah karena karena pertimbangan pendidikan dan karier. Karena jika kita lihat fajta di lapangan ternyata hingga kini masih ada saja perusahaan yang mencantumkan syarat "belum menikah" atau syarat "bersedia tidak menikah dan tidak hamil hingga periode tertentu setelah diterima sebagai pegawai." Hal inilah yang pada akhirnya jadi salah satu penyebab banyak pasangan enggan menikah muda.

Sebagaimana diungkap dalam GENIUSBEAUTY bahwa psikolog cenderung berpendapat pernikahan yang terlambat akan berpengaruh buruk pada kesehatan pasangan dan anak anak mereka kelak.

Sementara ity, vemale.com pernah memberitajan tentang sebuah penelitian yang dilakukan okeh penelitian dari PennState Unuversity, Amerika Serikat. Para penelitian menemujan bahwa pasangan yang menikah muda (usia 18-25 tahun) memiliki perkembangan psikologis yang lebih baik dibandingkan pasangan yang terlambat menikah.

Penelitian tersebut dilakukan pada 8.00 keluarga dan menemukan hadil bahwa pernikahan usia muda membantu mereka meningkatkan hubungan orangtua anak menjadi lebih baik. Anak anak yg memiliki orangtua menikah muda memiliki kecerdasan yang lebih tinggi. Selain itu anak anak akan di didik dengan norma dan perilaku yg lebih baik, serta lebih terlindungi dari depresi.

Bagi pasangan yg menikah muda, mereka akan lebih awal mengenai kemandirian, tanggung jawab, dan bagaimana saling membantu untuk membangun sebuah keluarga. Hasil penelitian juga mencatat bahwa pasangan muda memiliki kondisi kesehatan yg lebih baik di bandingkan rekan mereka yg terlambat menikah. Selain, itu mereka lebih bisa mengontrol stress dan memiliki emosi yg lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More