This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 18 Juli 2013

Tulisan Hati Part II

bukan karna apahh pun kita gak bisa
bersatuu
tapi karna memangg kita belum
ditakdirkan bersatuu
akuu hanya menjalani apahh yg
sudahh menjadi jalankuu
akuu bersyukurr hidup disekelilingg
orang* yg menyayangikuu
ituu adalahh anugerahh yang diberikan
penciptanyaa untuk kuu
dan apabilaa mereka pergi
meninggalkan kuu
akuu percaya bukan karna hal apahh
pun
mereka meninggalkan kuu
tapi memangg karna memang mereka
sayang padakuu
terima kasihhh buatt kasihhh sayangg
yang kamuu berikan untuk kuu
walauu pun haruss berakhir esokk
atauu entahhh kapann
akuu bersyukur bisaa merasakannyaa
dan bila ada salahh salahhkuu
yang menyakitimuu akuu mohonn
maaf
karna akuu gak pernahh terbesitt
dihatikuu untukk menyakiti hati yang
lainn

Tulisan Hati Part I

hari ini akuu menyadari suatu hal
hal yg membuatkuu mensyukuri satuu
hal
satu hal yg mungkin akan mewarnai
hidupkuu
begini
jika org yg ku cintai tau isi pikirankuu
gaungg hatiikuu yg terngiangg
diteligakuu
dan yg sering tak segan terbentik
dihatikuu
mungkin saat ini keadaanya tak begini
ribuan kta syg terlontarr
perhatian yg bertubi* akan bertebaran
dilangitkuu
membuat ufuk timur dan baratt tak lg
jingga
saat bersama mentarinyaa
tp akan ada saatnya siangku menjadi
kelam
saat pertengkaran tersulut ada 2
kemungkinan
berujung semakin cinta atau berujung
benci
saat itu bisakah aku membencinyaa ?
tdk merubah tahtanya dihatikuu ?
ahh menurutkuu biarlahh ini menjadi
rahasia
rahasia hatikuu dan penciptanyaa
biarlahh aku mencintainyaa dr jauhh
sajaa
hingga saatnya tibaa
krna akuu tak sanggup membencinyaa
apahh lg kehilangannya dr hidupkuu
ini bukan puisi apahh lagi narasi
hanya sebuahh tulisan hati

Kado Terindah Untukmu

KADO TERINDAH UNTUKMU
(APRESIASI UNTUK SELURUH WANITA YANG BERHATI EMAS)

Mala mini seakan lebih buruk dari
malam-malam sebelumnya, namun
satu yang membuatku dapat
tersenyum bahagia mala mini.
Tahukah apa itu? Sebuah pelangi hadir
ditengah awan sore itu, membuat hari
ini seakan tak seburuk yang
kubayangkan. Yaaa begitulah hidup,
selalu penuh warna seperti pelangi.

Sore ini seharusnya aku hadir dalam. sebuah acara indah dan sakral, indah bagi yang menjalankan tapi buruk bagiku. Karna aku tak sanggup menyaksikan sebuah janji suci orang yang kucintai bersanding dengan wanita lain. Dari pada aku harus menangis didepan orang banyak dan tiba-tiba menghentikan acara
tersebut, aku lebih memilih untuk duduk ditaman sambil menunggu sunset dan menunggu datangnya sang warna, pelangi.

Lelaki itu bukanlah oranglain bagiku, ia sanggat amat kucintai dan aku pun mengagumi sosoknya sebagai bagian indah dalam hidupku. Ia adalah suamiku, semua orang selalu bertanya-tanya mengapa aku menyetujui pernikahan tersebut?
Mengapa aku tak minta untuk diceraikan saja?
Pertanyaan itu selalu datang silih berganti, namun aku hanya mampu menjawab semua itu dengan senyuman tulus dari dalam lubuk hatiku. “aku memang sakit melihat orang yang sanggat kucintai
bersanding dengan perempuan lain, namun itu akan lebih menyakitkan dirinya bila tak memiliki keturunan dariku, aku bagaikan wanita yang tak sempurna, yang tak bisa memberikannya seorang anak, inilah saatnya kuberikan kebahagiaan itu
padanya, karna hanya itu yang mampu
kulakukan” ujarku dalam hati.

Sebenarnya suamiku melarangku untuk
menyetujui permintaan ibunya tersebut, namun kufikir tak ada salahnya memberikan kebahagiaan bagi orang yang telah membuatku bahagia bersanding dengannya.
Usia pernikahan kami baru beranjak tiga tahun, namun ibu mertuaku selalu mencelotehkanku untuk segera memiliki seorang anak, telah berbagai usaha kulakukan bersama suamiku, namun selalu saja tak ada hasilnya, hingga membuatku mengambil keputusan untuk menyetujui permintaan ibu mertuaku tersebut.

Saat aku sedang asik melihat pemandangan langit sore, tiba-tiba ada seseorang yang duduk disampingku, lalu ia berkata “mengapa kamu bersedih? Bukankah ini yang kamu mau?” ujarnya sambil melihat langit. Lalu aku menoleh kesamping, dia adalah suamiku, aku hanya terdiam saat mengetahui bahwa itu adalah
dirinya. “tak ada yang pernah menginginkan hal ini terjadi, tak ada pula wanita yang ingin membagi suaminya dengan oranglain, namun ketahuilah semua yang kulakukan untuk kebahagiaanmu, semua kulakukan karena kusanggat mencintaimu” ujarku sambil
menatapnya penuh lirih. Ia hanya memandangku tajam sambil memegang tanganku erat-erat.
Seolah-olah ia ingin berkata, hentikan semua ini!!! “ya Allah.. andai ia tau betapa
hancurnya perasaanku, betapa perihnya hatiku saat itu, namun aku tak bisa mengatakannya” ujarku dalam hati.

Satu tahun berlalu..
Istri kedua suamiku akan melahirkan seorang anak, dengan hati yang penuh
gelisah aku datang untuk memberikan sebuah kado dan ucapan selamat padanya. Semua orang sanggat bahagia melihat anak itu lahir, aku pun ikut merasa bahagia melihat mereka. Begitu pula dengan suamiku, ia sampai tidak menghiraukan aku saat sedang mengendong anaknya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, segera aku meminta ijin untuk keluar mengangkat telpon tersebut. Ternyata sebuah telpon dari ibuku, ia menanyakan kabarku disini, dengan rasa gelisah aku menjawabnya dengan sopan “aku baik-baik saja disini bu, hubungan aku dengan suamiku pun
semakin membaik, bahkan kami telah memiliki seorang anak perempuan, ibu mertuaku pun sanggat menyanyagiku, aku bahagia berada ditengah-tengah mereka” ujarku pada ibu. Aku membohongin ibu, karena aku tak ingin ibu sedih dan memikirkan keadaanku disini. Aku lebih memilih merahasiakan semuanya dari
keluargaku agar ia tetap merasakan kebahagiaanku.

Aku selalu melarang ibu untuk berkunjung kerumah kami, bukan karena aku tak senang dikunjunginya tetapi karena aku takut ibu akan jatuh sakit melihat keadaanku yang semakin tak menentu disini. Sejak menikah dengan suamiku, aku memang sudah tidak tinggal lagi dirumah ibu, aku ikut pergi kejakarta bersama suamiku, dan tinggal bersama ibu bapa mertuaku.

Tiga tahun berlalu bergitu cepat.. Akhir-akhir ini aku seirng jatuh pingsan saat sedang bekerja, bahkan sampai mengelurkan darah dihela hidungku. Aku sengaja merahasiakan keadaan ini pada suamiku karena takut membuatnya khawatir. Sehabis pulang kantor, aku mampir disebuah klinik dengan kantor untuk memeriksakan kondisiku. Dokter mengatakan bahwa aku terkena leukemia dan keadaanku sudah stadium 3. Saat mendengarkan itu air mataku menetes pilu
membasahi kedua kelopak mataku. “ya Allah.. leukemia, umurku sudah tak lama lagi” ujarku dalam hati.

Sesampainya dirumah, suamiku sudah
menungguku diruang tamu sambil menikmati secangkir the hanggat. Ia menanyakan mengapa aku baru pulang
selarut ini, namun lagi-lagi aku membohonginnya dan berkata “tadi ada meeting diluar, perjalanan kerumah sanggat macet, makanya aku telat sampai rumah, mana istrimu mas? Ujarku. Ia lalu memandangku tajam seakan ia tau kalo aku sedang membohonginya, lalu ia berkata “istriku adalah kamu, saat ini dan
selamanya. Dan wanita yang kamu maksud sudah tidur, aku ingin berbincang dan menghabiskan waktuku bersamamu, mengapa akhir-akhir ini kamu sering sekali pulang larut malem” ujarnya masih dalam tatapan yang tajam padaku.
Sebelum tidur aku membuka laptopku dan menuliskan sebuah puisi untuk suamiku..

Dear kekasih hatiku..

Ma’afkan aku yang tak bisa
menjadikan wanita sempurna untukmu
Ma’afkan aku yang membiarkanmu
untuk menyanding bahagia dengan
wanita lain
Aku memang sakit dan amatt sakit
melihat ikrar itu, namun aku tak bisa
berbuat apa-apa
Aku hanya ingin kamu bahagia, meski
kutau bahagiamu tak ada padaku
Andai kamu tau, cintaku begitu besar
padamu
Andai kamu mengerti, aku rela
mengorbankan nyawa bila kamu
memintanya
Anggap saja semua ini adalah kado
terindah dariku untukmu
Sebuah tangis kecil seorang anak
dirumahmu
Bila esok kelak aku telah tiada untuk
selamanya
Ketahuilah aku telah bahagia
memberikanmu kebahagiaan yang
abadi bersaamanya..

Beberapa bulan berlalu..
Membuat penyakitku semakin parah, dokter memang menyarankan aku untuk operasi namun aku menolaknya, kini adalah detik-detik aku pergi untuk selamanya. Sebelum kupergi satu yang ingin kulakukan, berlutut dibawah kaki suamiku dan meminta ma’af padanya, ia hanya terdiam saat aku melakukan itu, dan seketika semua kelam saat membangunkanku yang tak benafas kembali.

Karya : Nur Amaliya Hasanah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More