Namaku lia, aku tinggal disebuah desa yang masih sejuk udaranya, setiap pagi hari aku sudah membantu ibu untuk menanam padi disawah, ayahku hanya seorang petani desa yang mempunyai penghasilan kecil untuk memenuhi kebutuhan kami, tapi aku bangga pada ayahku ia sosok yang pekerja keras dan pantang menyerah, ibuku seorang wonderwoman bagiku dan keluargaku, walau ibu hanya seorang tukang cuci dan petani seperti ayah, tapi ibu adalah sosok yang sabar, aku bangga dan bahagia punya orangtua seperti mereka.
Sampai suatu ketika ayah jatuh sakit badanya tidak dapat bergerak, kami tidak mempunyai uang untuk membawa ayah berobat, semua harta benda yang kami miliki pun sudah ibu jual untuk menyembuhkan ayah, sampai akhirnya ibu yang mencari sesuap nasi agar aku dan adik-adikku tetap bersekolah. Suatu malam aku pernah mendenggar ibu menanggis aku tidak tega melihat ibu bersedih. Ibu bilang padaku bahwa sampai kapan pun ibu tidak akan membiarkan anak-anaknya menanggis dan kelaparan. Aku bangga pada ibu, ibu sosok yang tabah, setelah beberapa bulan berlalu ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, ayah tidak dapat diselamatkan lagi, aku dan adik-adikku tidak kuat untuk merelakan kepergian ayah, namun ibu masih tersenyum untuk kami sambil berkata “hidup kita belum berakhir nak, masih banyak yang harus kita lakukan demi membuat ayah tersenyum di alam sana” ujar ibuku sambil menggelus rambutku.
Setelah tiga bulan berlalu, setelah kepergian ayah, ibu menjadi tulang punggung bagi aku dan adik-adikku. Pagi hari sebelum matahari muncul ibu sudah pergi kesawah untuk bercocok tanam, ibu memang tidak pernah menyerah, ia ingin seperti Raden Ajeng Kartini seorang wanita yang tidak pernah menyerah demi kaum wanita. Sebelum berangkat sekolah pun aku sempatkan untuk membantu ibu di sawah, sesampainya di sekolah aku belajar seperti layaknya anak-anak remaja lainnya, aku berniat untuk menjadi orang yang sukses untuk membanggakan ibu dan ayah yang telah meninggal dunia.
Dulu sebelum ayah meninggal ia selalu berkata “carilah ilmu setinggi-tingginya, dan kejarlah mimpi sampai kelangit” sambil menggelus rambutku. Tapi kini tak ada lagi sosok yang tangguh dan bijak seperti ayah, aku ingin mewujudkan mimpi ayah dan ibu yang ingin melihat aku berhasil.
Setelah matahari terbenam ibu baru pulang dari ladang, tanpa letih ibu masih sempat untuk menemani kami saat belajar, ibu memang sosok yang tangguh sebelum tidur ibu selalu membacakan kami dongeng sampai kami tertidur pulas. Padahal, aku tahu ibu sedih setelah kepergiaan ayah harus berjuang membesarkan aku dan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Tapi ibu tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya padaku, ibu selalu menutupi semuanya agar melihat aku dan adik-adikku selalu bahagia.
Setahun berlalu, aku lulus sekolah dan berniat akan segera mencari pekerjaan demi membantu ibu yang usianya sudah tidak muda lagi, sebelum matahari terbit aku membantu ibu di ladang setiap harinya, walau ibu bilang padaku “sudah sekolah saja nak, sampai kamu bisa menjadi sarjana, ibu ingin melihat kamu memakai pakaian wisuda” ujar ibuku sambil menatapku. Ibu memang tidak pernah menginginkan aku untuk bekerja, ibu ingin melihat aku kuliah dan menjadi seorang sarjana. Tapi ku pikir, aku tak ingin memberatkan ibu untuk bekerja membiyaiku sekarang aku ingin membantu ibu untuk membantu adik-adikku.
Setiap malam aku sering melihat ibu gelisah dan menangis kesakitan, ibu memang tegar sampai rasa sakit yang ia rasakan tak ingin dibagi kepada ku anaknya. Seminggu kemudian ibu terbaring sakit badannya lemas ia tak berdaya, hanya bisa terbaring di tempat tidurnya, hatiku pilu melihat ibu menderita tak ada lagi sosok yang tegar dan selalu ceria.
Sebulan berlalu keadaan ibu sudah mulai membaik, walaupun wajah ibu masih lemas, tapi ibu tak ingin terus menerus menyusahkan aku dan adik-adikku, sebelum matahari muncul ibu sudah pergi ke ladang tanpa membangunkanku. Saat ku bangun ibu sudah tidak ada di tempat tidurnya, ku fikir pasti ibu ke ladang. Akhirnya aku menyusul ibu ke ladang dan memintanya untuk beristirahat saja di rumah, tapi ibu malah berkata “ibu sudah sehat nak, kamu tidak usah mencemaskan ibu, ibu bosan berada dirumah” ujar ibu sambil mencabut padi.
Ibu memang tegar dan pekerja keras, ia tak pernah lelah untuk bekerja demi aku dan adik-adikku, sampai-sampai ia melupakan dan mengabaikan penyakitnya, itulah ibu yang selalu membuatku bangga padanya. Saat di ladang ibu bilang padaku bahwa pamanku mengajak aku untuk ikut pergi ke Jakarta, kata paman di Jakarta sedang ada pendaftaran perguruan tinggi negeri, dengan semangat ibu menyetujui permintaan pamanku, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata “sudahlah bu, untuk apa aku pergi ke Jakarta sedangkan ibu sendirian disini” ujarku sambil menatap ibuku.
Sambil menarik nafas ibu berkata padaku “ibu tidak sendirian disini, masih ada adik-adikmu yang menemani ibu disini, sudahlah nak pergi saja kejarlah mimpimu, ayahmu juga pasti senang jika kamu berhasil nanti” ujar ibu sambil menatapku penuh haru. Mata ibu sudah berkaca-kaca tatapan matanya penuh harapan padaku, aku tak ingin melihat ibu kecewa dan bersedih, akhirnya ku putuskan untuk menerima tawaran paman untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan ibu.
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, aku sudah berkemas untuk pergi ke Jakarta, ibu juga sudah menyiapkan makanan untukku. Tiba-tiba ibu menghampiriku sambil berkata “hati-hati disana nak, jangan lupa sama kampung halamanmu, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu, ibu disini selalu mendoakanmu” ujar ibu sambil membantuku berkemas.
Tiga bulan berlalu setelah aku meninggalkan desa, aku mendaftarkan diri mengikuti ujian perguruan tinggi negeri, kata paman ada program beasiswa juga, jadi aku bias sedikit meringankan beban ibu di desa. Setelah mengikuti berbagai tes, aku diterima di perguruan tinggi negeri di daerah Jakarta, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan ibu untuk melihatku menjadi sarjana.
Setelah tiga bulan berlalu, masuknya aku diperguruan tinggi negeri aku berniat untuk mencari pekerja, walaupun tak mudah tapi demi ibu dan doa ibu aku akan berusaha, akhirnya setelah aku mengikuti berbagai macam tes aku diterima di perusahaan terbesar di Jakarta, karna kerja keras dan kejujuranku akhirnya aku di pindahkan di bagian staff, doa ibu memang terkabul semula yang ku fikir hanya mimpi, kini menjadi kenyataan aku bisa membuat ibu bangga dan bahagia. Dulu ibu pernah bilang padaku “dimana ada kemauan, disana pasti ada jalan”
Beberapa bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di tempatku bekerja, bagiku ia laki-laki yang bijak dan sopan, sampai akhirnya membuatku jatuh hati padanya, namanya bagus widiyanto ia pimpinanku di perusahaan tempatku bekerja, semula ku fikir ia tak mungkin akan memilihku karna aku hanyalah gadis desa tapi ternyata ia memang berbeda.
Empat tahun berlalu, akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu terjadi,aku di nyatakan lulus dengan nilai terbaik di kampusku, perasaan bangga pun menyelimuti hatiku. Seminggu setelah itu, aku meminta ijin pada pamanku untuk pulang ke desa bertemu dengan ibu, aku ingin memberitahukan kabar gembira padanya.
Sesampainya di desa ibu memelukku dengan erat, begitu pula aku. Aku sangat merindukan ibu, berkat doanya kini aku bisa berhasil menjadi seorang sarjana, sambil memeluk ibu aku berkata “terima kasih atas doamu bu, karna kini aku telah menjadi sarjana” ujarku sambil memeluk ibu, ibu hanya menangis haru sambil memelukku. Tapi ibu terkejut melihat seseorang yang berada di sampingku, dengan rasa bangga aku mengenalkannya pada ibu, aku ingin meminta restu padanya untuk di pinang dengan kekasih pilihanku dan ibu pun menyetujuinya.
Seminggu kemudian setelah aku kembali ke Jakarta, aku mendapat kabar bahwa ibu meninggal dunia, aku tak pernah membayangkan akan secepat ini berpisah dengan ibu, padahal baru kemarin aku memeluk ibu. Setelah mendengar kabar itu, aku segera pulang ke desa untuk melihat ibu yang terakhir kalinya, di samping mahkam ibu aku hanya bisa menangis dan menyesal karna belum sempat mewujudkan keinginan ibu. Seminggu yang lalu ibu pernah berkata padaku “ketika ibu telah tiada nanti, ibu ingin kamu menjaga adik-adikmu dan merawatnya seperti ibu merawat kamu, sebelum ibu pergi nanti ibu ingin melihat kamu memakai gaun penggantin” ujar ibuku sambil menangis.
Tiga bulan setelah kepergiaan ibu, masih membuatku bersedih karna harus menikah tanpa di dampingi ibu, dalam hati ku berkata “ibu walaupun kini dirimu tak ada di sampingku, namun aku bahagia dan bangga mempunyaimu, engkau ibuku yang tak pernah terganti, ibuku pahlawanku” ujarku sambil menangis.
Nama pengarang : Nur Amaliya Hasanah
Sumber : -