This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 22 Juni 2012

CINTA BUKAN DODOL (KUTIPAN BUKU CERITA REMAJA ISLAM)

Kapan cowo jatuh hati ?
Kalau ada makhluk yang diskriminatif dibumi ini, salah satunya ya cowo, makhluk yang namanya cowo itu sering mendewakan fisik ketimbang isi. Lihat motor yang keren pasti mengiler, lihat handphone anyar langsung mupeng (muka pengen), cowok itu memang mudah terpikat secara visual, pandangan.

Termasuk yang namanya jatuh cinta didominasi unsure penampakan dulu (hiii..) yang bias membuat cowo seketika jatuh hati, dimana pun juga adalah perempuan cantik. Biar ada cewek yang baik hatinya kalau enggak cantik, ya cowok bakal melenggos.

Itulah sebabnya yang namanya iklan-iklan apa saja pasti tokohnya cewek yang cakep, cakep, cakep. Mau iklan kecap, ban mobil, pompa air, apalagi shampoo, yang diisi sama yang good looking lah. Ini terjadi karena membuat iklannya cowok, sudah begitu pemirsanya juga cowok dan cewek. Supaya sama sama disukai ya sudah pakai model cewek cakep, meski kesannya dipaksakan, coba apa hubungannya pompa air sama cewek cakep? Gak ada kan? Dasar dodol? Hahaha..

Bukti lain kalau cowok itu makhluk yang mementingkan visual bangget adalah pemilihan ratu-ratu kecantikan, jurinya juga banyak yang cowok,penontonnya juga banyak yang cowok, meski katanya harus memenuhi syarat 3B (beauty, brain, behavior), tetapi tetap saja fisik nomor satu, mulai dari pemilihan putrid kampus sampai miss universe semuanya kudu cakep.

Kamu yang cewe boleh percaya boleh gak, tetapi itulah cowok. Mereka gampang bangget terpikat oleh penampilan fisik, mungkin sama potongan rambut tuh cewek yang panjang ala suster ngesot, atau oleh kulitnya yang putih kinclong kaarena rajin diamplas, atau sama tinggi badanya yang menjulang bak monas, atau bodinya yang mirip gitar, kalau yang mirip beduk apalagi truk cowok ogah ngelirik. Pokoke, apa pun yang visual biasanya mengandung decak kagum plus nafsu para cowok, ditambah iler dan pandangan yang gak lepas-lepas.

Gara-gara cowo suka memuja fisik, banyak cowok yang sering tertipu, ternyata tuh cewe suka ngedodolin cowok, alias tukang bohong. Bukan Cuma itu aja, banyak cowok yang kecewa karena cewek yang cakep enggak selamanya punya kelakuan yang cakep juga, ada yang cakep tp boros, ada yang cantik tetapi licik, ada yang keren tapi kurang setia.

Pada akhirnya banyak cowo yang juga berfikir kalau kepribadian itu enggak kalah penting dari penampilan, apalagi kalau mereka memikirkan rencana meried, wah cowok mendadak jadi memperhatikan masalah kepribadian, mereka takut juga kalau punya istri yang enggak setia dan gak becuss mengurus anak-anaknya kelak, sayangnya buat cowo hal itu dating belakangan diurutan terakhir, banyak cowok yang lupa akan hadist Nabi saw : “sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupamu dan fisikmu, tetapi melihat kehatimu” Cowok cowok kapann mau sadarr kalau penampilan bukan segalanyaa???

(diambil dari buku Cinta Bukan dodol ditulis oleh Iwan Januar)

Mencintaimu Diatas Air Mataku

Memberikan senyuman untuk dia yang kita cintai meski diam-diam menumpuk sedih sanggat banyak di dalam hati. Begitulah cuplikan sebuah novel berjudul DIA yang beberapa bulan lalu baru selesai kubaca. Tak banyak orang mengetahui betapa kisah asmaraku penuh dengan sebuah pengorbanan dan air mata, kadangkala setiap sakit yang aku rasa hanya mampu kusimpan dalam rongga hati yang paling dalam, berharap tak ada seorang pun yang mengetahui seberapa sakitnya hatiku saat itu.

Namaku anin, aku saat ini sedang mengambil sebuah study di sebuah perguruan swasta di Jakarta, aku di kenal sebagai anak yang pendiam dan ramah kepada setiap orang, bahkan orang yang baru aku kenal sekali pun. Dimata salah seorang sahabatku jiah, aku merupakan sosok yang sanggat dewasa dan perhatian. Jiah adalah teman sekolahku saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas, kami memang selalu menghabiskan waktu bersama-sama, bahkan di saat luar sekolah pun kami suka bermain bersama.

Malam ini seakan lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, entah mengapa nafasku seakan berhenti ketika aku tau sebuah kenyataan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Bagaikan berapa di tengah binatang buas yang siap untuk di santap. Begitulah perasaanku saat itu. Dia yang aku cintai masih menyayangi kekasih lalunya (mantan pacar), dengan mengumpulkan setumpuk tenaga aku menghela nafas, sambil menguatkan hatiku akan kenyataan yang baru saja aku dengar. Dia adalah rafa prasetyo, kekasihku yang beberapa bulan ini mengisi hari-hariku.

Terbesit perasaan gelisah bahkan tanpa kusadara air mataku telah jatuh membasahi tempat tidurku, aku hanya mampu menangis dan menumpahkan semua rasa sedihku seorang diri. Aku tak pernah berani mengungkapkan kesedihanku kepada rafa, aku takut ia akan marah padaku. Alhasil aku hanya dapat menangisi keadaanku kini.
Kejadian ini tak hanya sekali terjadi pada diriku, beberapa bulan yang lalu ia sempat membuat hatiku hancur berkeping-keping, ia menghianati kepercayaan yang pernah kuberikan padanya. Diam-diam dia mendekati banyak wanita lain di belakangku, bahkan saat awal kami berpacaran dia tak pernah menganggap aku sebagai kekasihnya, aku baru mengetahuinya saat hubungan kami sudah berjalan 3bulan.

Berkali-kali aku kuatkan hati untuk tetap bertahan menjaga hubungan ini, meski pun aku tak pernah tau apakah dia menginginkan hal yang sama atau tidak. Aku berusaha memaafkan kesalahannya, kasih sayangku padanya membuat aku mampu memaafkannya dan memberikannya kepercayaan. Sampai suatu ketika aku membaca sebuah pesan singkatnya (sms) dia mengajak seorang wanita untuk bertemu, aku hanya terdiam membaca sebuah pesan itu, sambil menahan air mataku yang ingin jatuh membasahi pipiku. Berkali-kali aku selalu mencoba untuk memaafkannya, membuatnya menyadari akan kesalahannya padaku.

Saat usia berpacaran kami 5bulan, kami bertengkar hebat. Dia memintaku untuk berubah menjadi yang dia inginkan, meski pun dia tak pernah memaksaku. Tetapi demi mempertahankan hubungan yang baik dengannya, aku berusaha menjadi seperti yang dia inginkan. Memang sulit, bahkan sanggat sulit namun semua harus kulakukan demi menjaga hubungan ini. “ujarku dalam hati”. Saat aku mencoba untuk mengakhiri hubungan dengannya, dia menolaknya dengan alas an dia tak ingin aku pergi. Hingga sampai pada akhirnya aku membatalkan niatku saat itu. Tapi semua yang aku lakukan seakan tak ada artinya bagi dirinya, bahkan aku tak pernah melihat tatapan rasa tulus menyayangiku di matanya. Itulah alasanku mengapa aku sering berucap padanya “pergilah kalau memang kamu masih sayang sama dia, jangan memikirkan perasaan aku, aku baik-baik aja” ujarku padanya beberapa bulan yang lalu.

Dia selalu menolak dan meminta aku tak pernah mengatakan hal itu kembali, namun pada kenyataannya tak sama. Aku tak pernah melihat ketulusan kasih sayangnya padaku, itulah yang kadangkala membuat hatiku merintih menangis. Aku coba membuka hatiku untuk pria lain yang menyukaiku, aku bukan ingin membuatnya sakit hati. Aku hanya ingin merasakan ketulusan seorang pria yang menyayangiku, sampai akhirnya dia mengetahuinya dan terjadilah salah paham di antara kami berdua. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tetapi dia lebih percaya dengan apa yang dia baca dan dia lihat.

Sekarang sudah 6bulan kami menjalin kasih, aku mengetahui kebenaran yang kuduga sebelumnya, dia masih menyayangi mantan kekasihnya. Lagi-lagi aku hanya mampu menangis tanpa kata, “ya Allah apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus merelakan dia? Apa aku setak pantas itu buat merasakan di cintai dan mencintai? Ya Allah aku juga ingin bahagia” ucapku dengan lirih. Kini biarlah aku tetap bertahan untuk bersamamu, bila pada akhirnya aku harus pergi meninggalkan semua tentang kita biarlah aku pergi karna mungkin itu yang terbaik untuk kita bersama.


Mencintaimu Di Atas Airmataku

Perkenalan kita cukup singkat, membuat hatiku seakan tak bisa lepas.
Bayang tentangmu masih teringat jelas, meski hanya sesaat kurasa bahagiaa.
Aku tau, hatimu bukan untukku.
Aku tau, cintamu bukan milikki.
Cukuplah membuat aku merasakan bahagia itu, biarlah kini aku membalas bahagiamu. Aku menyayangimu, melebihi kau menyayangi mantan kekasihmu.
Biarlah semua rasaku kusimpan dalam-dalam dilubuk jiwaku.
Karna tak sepantasnya aku menyayangi seseorang yang masih menyayangi wanita lain. Bila nanti aku telah pergi jauh, jangan pernah menyesali hal yang terjadi antara kita.
Aku bahagia bisa mengenalmu, meski aku tak pernah merasakan ketulusanmu.
Biarlah aku mencari bahagiaku, bukan demi diriku tapi demi dirimu yang bahagia bila tak bersamaku.


Karya. Lya 

Sabtu, 16 Juni 2012

Ibu Ku PahlawanKu

Namaku lia, aku tinggal disebuah desa yang masih sejuk udaranya, setiap pagi hari aku sudah membantu ibu untuk menanam padi disawah, ayahku hanya seorang petani desa yang mempunyai penghasilan kecil untuk memenuhi kebutuhan kami, tapi aku bangga pada ayahku ia sosok yang pekerja keras dan pantang menyerah, ibuku seorang wonderwoman bagiku dan keluargaku, walau ibu hanya seorang tukang cuci dan petani seperti ayah, tapi ibu adalah sosok yang sabar, aku bangga dan bahagia punya orangtua seperti mereka.

Sampai suatu ketika ayah jatuh sakit badanya tidak dapat bergerak, kami tidak mempunyai uang untuk membawa ayah berobat, semua harta benda yang kami miliki pun sudah ibu jual untuk menyembuhkan ayah, sampai akhirnya ibu yang mencari sesuap nasi agar aku dan adik-adikku tetap bersekolah. Suatu malam aku pernah mendenggar ibu menanggis aku tidak tega melihat ibu bersedih.
Ibu bilang padaku bahwa sampai kapan pun ibu tidak akan membiarkan anak-anaknya menanggis dan kelaparan.
Aku bangga pada ibu, ibu sosok yang tabah, setelah beberapa bulan berlalu ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, ayah tidak dapat diselamatkan lagi, aku dan adik-adikku tidak kuat untuk merelakan kepergian ayah, namun ibu masih tersenyum untuk kami sambil berkata “hidup kita belum berakhir nak, masih banyak yang harus kita lakukan demi membuat ayah tersenyum di alam sana” ujar ibuku sambil menggelus rambutku.

Setelah tiga bulan berlalu, setelah kepergian ayah, ibu menjadi tulang punggung bagi aku dan adik-adikku.
Pagi hari sebelum matahari muncul ibu sudah pergi kesawah untuk bercocok tanam, ibu memang tidak pernah menyerah, ia ingin seperti Raden Ajeng Kartini seorang wanita yang tidak pernah menyerah demi kaum wanita.
Sebelum berangkat sekolah pun aku sempatkan untuk membantu ibu di sawah, sesampainya di sekolah aku belajar seperti layaknya anak-anak remaja lainnya, aku berniat untuk menjadi orang yang sukses untuk membanggakan ibu dan ayah yang telah meninggal dunia.

Dulu sebelum ayah meninggal ia selalu berkata “carilah ilmu setinggi-tingginya, dan kejarlah mimpi sampai kelangit” sambil menggelus rambutku.
Tapi kini tak ada lagi sosok yang tangguh dan bijak seperti ayah, aku ingin mewujudkan mimpi ayah dan ibu yang ingin melihat aku berhasil.

Setelah matahari terbenam ibu baru pulang dari ladang, tanpa letih ibu masih sempat untuk menemani kami saat belajar, ibu memang sosok yang tangguh sebelum tidur ibu selalu membacakan kami dongeng sampai kami tertidur pulas.
Padahal, aku tahu ibu sedih setelah kepergiaan ayah harus berjuang membesarkan aku dan adik-adikku yang masih kecil-kecil.
Tapi ibu tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya padaku, ibu selalu menutupi semuanya agar melihat aku dan adik-adikku selalu bahagia.

Setahun berlalu, aku lulus sekolah dan berniat akan segera mencari pekerjaan demi membantu ibu yang usianya sudah tidak muda lagi, sebelum matahari terbit aku membantu ibu di ladang setiap harinya, walau ibu bilang padaku “sudah sekolah saja nak, sampai kamu bisa menjadi sarjana, ibu ingin melihat kamu memakai pakaian wisuda” ujar ibuku sambil menatapku. Ibu memang tidak pernah menginginkan aku untuk bekerja, ibu ingin melihat aku kuliah dan menjadi seorang sarjana. Tapi ku pikir, aku tak ingin memberatkan ibu untuk bekerja membiyaiku sekarang aku ingin membantu ibu untuk membantu adik-adikku.

Setiap malam aku sering melihat ibu gelisah dan menangis kesakitan, ibu memang tegar sampai rasa sakit yang ia rasakan tak ingin dibagi kepada ku anaknya.
Seminggu kemudian ibu terbaring sakit badannya lemas ia tak berdaya, hanya bisa terbaring di tempat tidurnya, hatiku pilu melihat ibu menderita tak ada lagi sosok yang tegar dan selalu ceria.

Sebulan berlalu keadaan ibu sudah mulai membaik, walaupun wajah ibu masih lemas, tapi ibu tak ingin terus menerus menyusahkan aku dan adik-adikku, sebelum matahari muncul ibu sudah pergi ke ladang tanpa membangunkanku.
Saat ku bangun ibu sudah tidak ada di tempat tidurnya, ku fikir pasti ibu ke ladang.
Akhirnya aku menyusul ibu ke ladang dan memintanya untuk beristirahat saja di rumah, tapi ibu malah berkata “ibu sudah sehat nak, kamu tidak usah mencemaskan ibu, ibu bosan berada dirumah” ujar ibu sambil mencabut padi.

Ibu memang tegar dan pekerja keras, ia tak pernah lelah untuk bekerja demi aku dan adik-adikku, sampai-sampai ia melupakan dan mengabaikan penyakitnya, itulah ibu yang selalu membuatku bangga padanya.
Saat di ladang ibu bilang padaku bahwa pamanku mengajak aku untuk ikut pergi ke Jakarta, kata paman di Jakarta sedang ada pendaftaran perguruan tinggi negeri, dengan semangat ibu menyetujui permintaan pamanku, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata “sudahlah bu, untuk apa aku pergi ke Jakarta sedangkan ibu sendirian disini” ujarku sambil menatap ibuku.

Sambil menarik nafas ibu berkata padaku “ibu tidak sendirian disini, masih ada adik-adikmu yang menemani ibu disini, sudahlah nak pergi saja kejarlah mimpimu, ayahmu juga pasti senang jika kamu berhasil nanti” ujar ibu sambil menatapku penuh haru.
Mata ibu sudah berkaca-kaca tatapan matanya penuh harapan padaku, aku tak ingin melihat ibu kecewa dan bersedih, akhirnya ku putuskan untuk menerima tawaran paman untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan ibu.

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, aku sudah berkemas untuk pergi ke Jakarta, ibu juga sudah menyiapkan makanan untukku.
Tiba-tiba ibu menghampiriku sambil berkata “hati-hati disana nak, jangan lupa sama kampung halamanmu, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu, ibu disini selalu mendoakanmu” ujar ibu sambil membantuku berkemas.

Tiga bulan berlalu setelah aku meninggalkan desa, aku mendaftarkan diri mengikuti ujian perguruan tinggi negeri, kata paman ada program beasiswa juga, jadi aku bias sedikit meringankan beban ibu di desa.
Setelah mengikuti berbagai tes, aku diterima di perguruan tinggi negeri di daerah Jakarta, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan ibu untuk melihatku menjadi sarjana.

Setelah tiga bulan berlalu, masuknya aku diperguruan tinggi negeri aku berniat untuk mencari pekerja, walaupun tak mudah tapi demi ibu dan doa ibu aku akan berusaha, akhirnya setelah aku mengikuti berbagai macam tes aku diterima di perusahaan terbesar di Jakarta, karna kerja keras dan kejujuranku akhirnya aku di pindahkan di bagian staff, doa ibu memang terkabul semula yang ku fikir hanya mimpi, kini menjadi kenyataan aku bisa membuat ibu bangga dan bahagia. Dulu ibu pernah bilang padaku “dimana ada kemauan, disana pasti ada jalan”

Beberapa bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di tempatku bekerja, bagiku ia laki-laki yang bijak dan sopan, sampai akhirnya membuatku jatuh hati padanya, namanya bagus widiyanto ia pimpinanku di perusahaan tempatku bekerja, semula ku fikir ia tak mungkin akan memilihku karna aku hanyalah gadis desa tapi ternyata ia memang berbeda.

Empat tahun berlalu, akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu terjadi,aku di nyatakan lulus dengan nilai terbaik di kampusku, perasaan bangga pun menyelimuti hatiku.
Seminggu setelah itu, aku meminta ijin pada pamanku untuk pulang ke desa bertemu dengan ibu, aku ingin memberitahukan kabar gembira padanya.

Sesampainya di desa ibu memelukku dengan erat, begitu pula aku. Aku sangat merindukan ibu, berkat doanya kini aku bisa berhasil menjadi seorang sarjana, sambil memeluk ibu aku berkata “terima kasih atas doamu bu, karna kini aku telah menjadi sarjana” ujarku sambil memeluk ibu, ibu hanya menangis haru sambil memelukku.
Tapi ibu terkejut melihat seseorang yang berada di sampingku, dengan rasa bangga aku mengenalkannya pada ibu, aku ingin meminta restu padanya untuk di pinang dengan kekasih pilihanku dan ibu pun menyetujuinya.

Seminggu kemudian setelah aku kembali ke Jakarta, aku mendapat kabar bahwa ibu meninggal dunia, aku tak pernah membayangkan akan secepat ini berpisah dengan ibu, padahal baru kemarin aku memeluk ibu.
Setelah mendengar kabar itu, aku segera pulang ke desa untuk melihat ibu yang terakhir kalinya, di samping mahkam ibu aku hanya bisa menangis dan menyesal karna belum sempat mewujudkan keinginan ibu.
Seminggu yang lalu ibu pernah berkata padaku “ketika ibu telah tiada nanti, ibu ingin kamu menjaga adik-adikmu dan merawatnya seperti ibu merawat kamu, sebelum ibu pergi nanti ibu ingin melihat kamu memakai gaun penggantin” ujar ibuku sambil menangis.

Tiga bulan setelah kepergiaan ibu, masih membuatku bersedih karna harus menikah tanpa di dampingi ibu, dalam hati ku berkata “ibu walaupun kini dirimu tak ada di sampingku, namun aku bahagia dan bangga mempunyaimu, engkau ibuku yang tak pernah terganti, ibuku pahlawanku” ujarku sambil menangis.


Nama pengarang : Nur Amaliya Hasanah Sumber : -

Ku Pinang Kau Dengan Bismillah

Namaku Alia putri umurku saat ini sudah 23 tahun, kata orang umurku sudah tak muda lagi apalagi aku seorang wanita, yang seharusnya sudah memiliki seorang suami. Kehidupan cintaku memang tak semulus kehidupan yang lainnya, diusia ku yang sudah tak muda lagi aku juga ingin dipinang oleh seorang lelaki tampan yang mapan. Namun apa ku sangka sampai saat ini aku belum menemukannya. Berbagi cara pun telah dilakukan oleh keluarga dari yang biasa sampai yang luar biasa, bahkan aku sempat ingin dijodohkan seperti jaman siti nurbaya dulu aduhhh ini kan udahh modern.

Keluarga ku pun sempat mendaftarkan aku dibiro jodoh namun aku menolaknya. Maklumlah aku dan keluargaku tinggal didesa yang masih banyak menganut adat dan istiadat yang sanggat kental, biasanya didesaku gadis seusia ku sudah mempunyai suami bahkan mempunyai anak, didesaku gadis sepertiku memang rata-rata menikah muda, sekitar umur 18 sampai 20. Karna didesaku menentang pergaulan bebas, dari pada mereka pacaran dan melakukan perbuatan yang tidak baik, lebih baik dinikahkan saja, begitu menurut sesepuh dikampung kami. Sedikit saja bercerita tentang desaku.

Siapa bilang aku tidak pernah berpacaran, aku pernah menjalin hubungan dengan teman sekantorku, kami pacaran cukup lama sekitar 2tahun, tapi hubungan kami kandas begitu saja, ketika laki-laki itu harus berpindah tempat kerja denganku. Sebelum pergi merantau ke Jakarta lelaki itu sempat menitipkan sepucuk surat untukku, sampai akhirnya kami dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Dear bintangku . . .
Pertemuan kita mungkin singkat
Kisah yang kita rajut pun tak lama
Kini aku harus berkelana meninggalkanmu
Berat hati untuk melepas kenangan indah kita
Namun inilah hidup
Jalan yang harus kita lalui
Aku pergi untuk mencari sesuap nasi
Aku pergi untuk menggapai masa depanku
Jangan katakan aku jahat
Karna yang ku lakukan untuk kebaikanmu
Jika aku telah menjadi emas nanti
Akan ku jadikan dirimu ratu didalam hatiku
Kan ku tempatkan dirimu ditempat yang paling indah dikerajaanku
Tunggu aku ketika aku telah membawa emas untukmu
Dan kau akan ku pinang

Puisi pendek darinya membuat hatiku meneteskan airmata, memang tak sebagus puisi karya kahlil Gibran namun aku sanggat menghargai usahanya untuk membuat puisi.
Itulah mengapa sampai saat ini aku belum memiliki seorang kekasih.
Aku masih menunggu janjinya padaku, sepucuk surat yang ditulisnya menjadikan aku untuk tetap bertahan menunggunya.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kerumahku, ingin bertemu denganku dan keluargaku, dengan spontan aku bangun dari tempat tidurku sambil berlari kecil menuju ruang tamu.
Ternyata dia tamu ayah, lelaki itu adalah anak teman ayah saat bekerja didinas dulu, namanya pak darmo, ayah dan pak darmo memang teman dekat sudah lama malah saat mereka masih duduk dibangku sekolah dasar, waktu mereka masih muda dulu mereka sempat berniat untuk menjodohkan anak lelaki pak darmo dengan aku, namun saat itu ayah tidak menanggapinya, ayah takut aku akan marah ketika tau akan dijodohkan apalagi dengan seorang laki-laki yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Maka dari itu ayah belum pernah memberitahu aku sebelumnya.

Saat itu aku hanya bertemu dengan pak darmo, dia sempat melihatku dengan sepintas karna aku langsung kembali menuju dapur.
Sempat aku mendengar seorang laki-laki yang disebut oleh pak darmo “faris” dengan spontan aku kaget dan hampir menabrak dingidng dapur. “sepertinya aku mengenal nama itu,faris??” dalam hatiku berkata dengan perasaan binggung.

Ayah dan pak darmo tidak terlalu lama berbincang-bincang karna haripun sudah gelap, pak darmo pun berpamitan pulang kepada ayah, ibu dan aku.
Saat malam hari, aku masih memikirkan sebuah nama yang disebut oleh pak darmo nama itu sepertinya tak asing ditelingaku,” itu seperti seseorang yang pernah mengirimkan aku sebuah surat beberapa tahun yang lalu”batinku berkata.
Tapi semakin lama aku berfikir semakin membuatku binggung akan nama itu.

Pagi hari sebelum aku berangkat kekantor ayah dan ibu ingin berbicara padaku, “sepertinya akan ada rapat hari ini,ada apa yah”Tanya hatiku.
Aku segera bergegas menuju ruang tengah untuk mendengarkan yang ingin dibicarakan ayah dan ibu. Selang beberapa menit kemudian ayah berbicara, aku mendengarkan dengan baik apa yang ayah bicarakan, ternyata tentang sebuah “PERJODOHAN, oh tidak” teriakku dalam hati.
Benarkan apa yang ku duga kedatangan pak darmo teman ayah ternyata ingin menjodohkan aku dengan anak lelakinya.
Ketika perbincangan selesai ayah berkata padaku “semua tergantung padamu endo, ayah tidak melarangmu jika kamu sudah mempunyai pilihan dan menurutmu dia yang terbaik dan bisa memberikan kebahagiaan untukmu, ibu dan ayah hanya bisa merestui saja, asal kamu tidak menyesal atas pilihanmu itu” ucap ayah singkat padaku.
Aku hanya bisa berkata “akan ku pikirkan rencana ayah dan ibu ini, semoga aku bisa menemukan yang terbaik untuk hidupku kelak” ucapku singkat.
Rencana perjodohan itu membuat kepalaku mendadak pusing, seperti sedang diatas awan, ingin menolaknya namun aku tak punya seorang kekasih yang akan ku kenalkan pada ayah dan ibu, tapi kalau aku mengiyakan, aku belum mengenal siapa lelaki itu.
Rencana itu membuat hari ini seakan hancur, rencanaku yang ingin ketoko buku untuk membeli sebuah novel batal, karna pikiranku yang terbelah.

3hari berlalu aku juga belum menemukan jawaban dari rencana ayah dan ibu, namun setelah ku fikirkan cepat atau lambat aku pasti akan dipinang oleh seorang lelaki, entah siapa orangnya.
Setelah makan malam aku berbicara dengan ayah dan ibu diruang tengah, ayah mungkin sudah tau apa yang akan ku katakan.
Aku berusaha menenangkan diri untuk berbicara secara dewasa pada ayah dan ibu, “ayah,ibu sebenarnya aku tidak ingin menolak permintaan kalian padaku,namun ku fikir apa tidak sebaiknya saat ini aku bekerja dulu sampai bisa membahagiakan kalian?” ucapku sambil menatap ayah dan ibu.
Ayah dan ibu Cuma bisa menghela nafas pendek ketika aku berbicara seperti itu padanya.

“kamu sudah besar endo, sudah bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk hidup kamu, jika memang itu yang kamu inginkan silahkan, ayah tak akan melarang, namun jangan terlalu lama juga kamu menyendiri takut banyak fitnah yang datang nantinya” ujar ayahku singkat sambil menatapku.
Ucapan ayah sanggat singkat namun membuat aku berfikir tentang hidupku sendiri.

Satu tahun berlau berjalan dengan begitu cepat, begitu pula dengan hidupku.
Memasuki roda baru dalam hidup baru, seorang lelaki tampan yang ku tunggu selama bertahun-tahun datang kerumahku, ia tak sendiri ia ditemani oleh kedua orangtuanya, perasaanku saat itu seperti ombak yang tidak menentu seperti apa.
Aku menyiapkan 3teh manis untuk lelaki tampan itu dan orangtuanya, ayah ibu menyuruhku untuk duduk disamping mereka.
Perbincangan pun dimulai “apa??dilamar??yaampun..” gemuruk hatiku. Mukaku dengan sekejap memerah seperti api, dengan perasaan bahagia aku mengiyakan lamaran tersebut.

Lelaki yang ku tunggu dan yang melamarku itu ternyata adalah anak pak darmo, anak yang ingin dijodohkan denganku beberapa bulan yang lalu namun sempat ku tolak.
Lelaki itu bernama faris lelaki yang dulu pernah menjadi persinggahanku.
Oh my god dengan terkejut dan sekejap aku mengetahui semua rahasia indahmu.

Sebelum pulang lelaki itu menemuiku sambil berkata “ma’af aku baru datang menemuimu saat ini, aku mencari sesuap nasi untuk kehidupanku nanti yang akan ku bangun bersamamu, ma’af juga telah membuatmu menunggu selama ini, aku percaya kamu pasti akan menungguku karna suratku yang beberapa tahun lalu ku kirim untukmu, inilah janjiku padamu yang akan menjadi emas ketika aku telah berhasil nanti dan kamu akan kujadikan ratu dalam kerajaanku, atas izin ALLAH dan atas restu ayah ibuku ayah ibumu, kau akan kupinang dengan bismilah” ucapnya sambil menatapku penuh kebahagiaan.
Aku hanya mampu tersenyum manis kepadanya sambil berkata “terimakasih”

Pengarang/sumber : Nur Amaliya Hasanah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More