Memberikan senyuman untuk dia yang kita cintai meski diam-diam menumpuk sedih sanggat banyak di dalam hati. Begitulah cuplikan sebuah novel berjudul DIA yang beberapa bulan lalu baru selesai kubaca. Tak banyak orang mengetahui betapa kisah asmaraku penuh dengan sebuah pengorbanan dan air mata, kadangkala setiap sakit yang aku rasa hanya mampu kusimpan dalam rongga hati yang paling dalam, berharap tak ada seorang pun yang mengetahui seberapa sakitnya hatiku saat itu.
Namaku anin, aku saat ini sedang mengambil sebuah study di sebuah perguruan swasta di Jakarta, aku di kenal sebagai anak yang pendiam dan ramah kepada setiap orang, bahkan orang yang baru aku kenal sekali pun. Dimata salah seorang sahabatku jiah, aku merupakan sosok yang sanggat dewasa dan perhatian. Jiah adalah teman sekolahku saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas, kami memang selalu menghabiskan waktu bersama-sama, bahkan di saat luar sekolah pun kami suka bermain bersama.
Malam ini seakan lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, entah mengapa nafasku seakan berhenti ketika aku tau sebuah kenyataan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Bagaikan berapa di tengah binatang buas yang siap untuk di santap. Begitulah perasaanku saat itu. Dia yang aku cintai masih menyayangi kekasih lalunya (mantan pacar), dengan mengumpulkan setumpuk tenaga aku menghela nafas, sambil menguatkan hatiku akan kenyataan yang baru saja aku dengar. Dia adalah rafa prasetyo, kekasihku yang beberapa bulan ini mengisi hari-hariku.
Terbesit perasaan gelisah bahkan tanpa kusadara air mataku telah jatuh membasahi tempat tidurku, aku hanya mampu menangis dan menumpahkan semua rasa sedihku seorang diri. Aku tak pernah berani mengungkapkan kesedihanku kepada rafa, aku takut ia akan marah padaku. Alhasil aku hanya dapat menangisi keadaanku kini.
Kejadian ini tak hanya sekali terjadi pada diriku, beberapa bulan yang lalu ia sempat membuat hatiku hancur berkeping-keping, ia menghianati kepercayaan yang pernah kuberikan padanya. Diam-diam dia mendekati banyak wanita lain di belakangku, bahkan saat awal kami berpacaran dia tak pernah menganggap aku sebagai kekasihnya, aku baru mengetahuinya saat hubungan kami sudah berjalan 3bulan.
Berkali-kali aku kuatkan hati untuk tetap bertahan menjaga hubungan ini, meski pun aku tak pernah tau apakah dia menginginkan hal yang sama atau tidak. Aku berusaha memaafkan kesalahannya, kasih sayangku padanya membuat aku mampu memaafkannya dan memberikannya kepercayaan. Sampai suatu ketika aku membaca sebuah pesan singkatnya (sms) dia mengajak seorang wanita untuk bertemu, aku hanya terdiam membaca sebuah pesan itu, sambil menahan air mataku yang ingin jatuh membasahi pipiku. Berkali-kali aku selalu mencoba untuk memaafkannya, membuatnya menyadari akan kesalahannya padaku.
Saat usia berpacaran kami 5bulan, kami bertengkar hebat. Dia memintaku untuk berubah menjadi yang dia inginkan, meski pun dia tak pernah memaksaku. Tetapi demi mempertahankan hubungan yang baik dengannya, aku berusaha menjadi seperti yang dia inginkan. Memang sulit, bahkan sanggat sulit namun semua harus kulakukan demi menjaga hubungan ini. “ujarku dalam hati”. Saat aku mencoba untuk mengakhiri hubungan dengannya, dia menolaknya dengan alas an dia tak ingin aku pergi. Hingga sampai pada akhirnya aku membatalkan niatku saat itu. Tapi semua yang aku lakukan seakan tak ada artinya bagi dirinya, bahkan aku tak pernah melihat tatapan rasa tulus menyayangiku di matanya. Itulah alasanku mengapa aku sering berucap padanya “pergilah kalau memang kamu masih sayang sama dia, jangan memikirkan perasaan aku, aku baik-baik aja” ujarku padanya beberapa bulan yang lalu.
Dia selalu menolak dan meminta aku tak pernah mengatakan hal itu kembali, namun pada kenyataannya tak sama. Aku tak pernah melihat ketulusan kasih sayangnya padaku, itulah yang kadangkala membuat hatiku merintih menangis. Aku coba membuka hatiku untuk pria lain yang menyukaiku, aku bukan ingin membuatnya sakit hati. Aku hanya ingin merasakan ketulusan seorang pria yang menyayangiku, sampai akhirnya dia mengetahuinya dan terjadilah salah paham di antara kami berdua. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tetapi dia lebih percaya dengan apa yang dia baca dan dia lihat.
Sekarang sudah 6bulan kami menjalin kasih, aku mengetahui kebenaran yang kuduga sebelumnya, dia masih menyayangi mantan kekasihnya. Lagi-lagi aku hanya mampu menangis tanpa kata, “ya Allah apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus merelakan dia? Apa aku setak pantas itu buat merasakan di cintai dan mencintai? Ya Allah aku juga ingin bahagia” ucapku dengan lirih. Kini biarlah aku tetap bertahan untuk bersamamu, bila pada akhirnya aku harus pergi meninggalkan semua tentang kita biarlah aku pergi karna mungkin itu yang terbaik untuk kita bersama.
Mencintaimu Di Atas Airmataku
Perkenalan kita cukup singkat, membuat hatiku seakan tak bisa lepas.
Bayang tentangmu masih teringat jelas, meski hanya sesaat kurasa bahagiaa.
Aku tau, hatimu bukan untukku.
Aku tau, cintamu bukan milikki.
Cukuplah membuat aku merasakan bahagia itu, biarlah kini aku membalas bahagiamu.
Aku menyayangimu, melebihi kau menyayangi mantan kekasihmu.
Biarlah semua rasaku kusimpan dalam-dalam dilubuk jiwaku.
Karna tak sepantasnya aku menyayangi seseorang yang masih menyayangi wanita lain.
Bila nanti aku telah pergi jauh, jangan pernah menyesali hal yang terjadi antara kita.
Aku bahagia bisa mengenalmu, meski aku tak pernah merasakan ketulusanmu.
Biarlah aku mencari bahagiaku, bukan demi diriku tapi demi dirimu yang bahagia bila tak bersamaku.
Karya. Lya




0 komentar:
Posting Komentar