Namaku Nur amaliya hasanah, panggil saja aku lia. Aku masih duduk di bangku perguruan tinggi swasta. Ayahku telah pensiun dua tahun yang lalu. Sekarang ibuku berdagang makanan dirumah. Aku anak ke 3 dari 3 bersaudara. Kakaku yang pertama laki-laki, baru saja menikah beberapa bulan lalu. Kakaku yang kedua perempuan, sudah mempunyai dua orang anak dan tinggal di Kerawang saat ini. Sedikit tentang keluargaku.
Saat aku duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan, aku sempat ikut bersama ibuku pulang kampung. Di kebumen jawa tengah. Saat itu aku berangkat hari senin pagi dari stasiun jatinegara, ya ibuku memang lebih nyaman pulang kampung dengan mengendarai kereta api.
Bukan perjalanan yang cepat untuk sampai ke kampung halaman ibuku, butuh sekitar 7 sampai 8 jam untuk sampai di sodong, sodong itu adalah nama desa tempat neneku tinggal.
Kali ini keretaku sampai di stasiun karanganyar telat, yang seharusnya aku sampai pada pukul 3 kini aku baru sampai pada pukul 4 sore.
Sesampainya di stasiun aku dan ibuku menaiki ojek untuk menuju rumah nenekku. Ya maklumlah rumah neneku tidak berada dikota, melainkan dibawah gunung dan di pedesaan.
Ketika malam tiba, suasana di desa mulai sanggat kental. Jalanan pun tak ada penerangan, bahkan kalau ingin pergi keluar rumah harus bawa senter sebagai penerang.
Ketika malam itu, ketika aku ingin memejamkan mata. Terdengar suara motor berhenti didekat rumah nenekku. Tak lama kemudian ada seorang pria masuk dalam rumah nenekku. *tok tok tok* ternyata yang datang adalag tetangga buleku.
Saat itu aku tak jelas melihat wajahnya, karna saat itu aku tengah kelelahan. Tapi aku sempat mengintip dibalik selimutku ada seorang pria tampab duduk dibangku ruang tengah neneku.
Tampan? Iya pria itu tampan sekali. Sayang aku tak mampu untuk mengenalnya.
3 hari aku berada di kampung. Aku sudah ingin pulang kekotaku. Kali ini aku akan pulang pukul set 7 malam. Tapi aku berangkat sekitar pukul 5 sore dari rumah neneku.
Tebak siapa yang mengantarkanku? Iya, pria yang semalam kulihat dibangku rumah nenekku. Dia mengantarkan aku menuju stasiun. Aku tak berdua, aku bertiga bersama pamanku menaiki motor untuk menuju ke stasiun. Sedangkan ibuku menaiki ojek yang berada disekitar rumah nenekku.
Saat di stasiun..
Ketika itu kereta keberangkatanku datang pukul set 7 malam. Saat itu adzan magrib, pria itu berpamitan untuk mencari mushola untuk melaksanakan sholat magrib.
Aku tak banyak bertanya siapa pria itu, aku juga tak sempat berani menanyakan siapa namanya. Yang kutau ia pria baik.
2tahun setelah berlalu kepulanganku dari desa. Tak banyak cerita lebih tentang pria tersebut.
Tetapi 3tahun berlalu saat aku duduk dibangku perguruan tinggi swasta, aku dan keluargaku pulang mudik ke kampung ibuku.
Tau tidak siapa yang disebut pertama kali saat aku pertama kali bertemu dengan buleku. "Lia.. Dapat salam mas kabul" sambil tersenyum lebar padaku. Seketika aku diam "Mas kabul? Siapa bule?" ujarku bertanya. "itu loh yang waktu itu pernah nganterin kamu ke stasiun" ujar buleku.
Haaah? Dia? Oh namanya mas kabul ya. Saat itu kufikir pria itu telag beristri dan memiliki keluarga. Makanya aku tak terlalu menghiraukan salam buleku itu.
Beberapa kali setiap kali aku pulang ke desa buleku selalu memberikan aku pesan itu. Saat pada akhirnya saat aku sedang sendiri, aku menginginkan untuk berkenalan dengannya.
Aku bertemunya dirumah bulekku yang rumahnya tak jauh dari rumah mas kabul. Saat itu kami hanya saling menatap malu. Aku lebih sering mencuri tatapanku saat mas tidak melihatku.
Benar saja.. Perkenalanku itu melanjut dengan perkenalan yang lebih jauh.
Akhir bulan september, mas menghubungiku. Saat itu perasaanku mulai tak karuan, perasaan degdegan, malu bahkan bahagia pada saat itu cuma pesan singkat yang dikirim oleh mas.
Saat itu mas sering mengirim pesan singkat, namun aku selalu tak pernah mengerti maksud pesan singkatnya itu. Ya, memang benar. Mas selalu berkata jikalau orang kota itu banyak yang hura-hura, tak mau bersusah. Jelas saja membuatku berargumen dengannya.
Tapi itu tak berangsur lama, karna pada akhirnya mas meminta maaf atas pesan singkatnya tersebut.
Ketika perkenalanku, mas lebih sering meninggalkanku saat aku sedang berpesan singkat dengannya. Kadang aku merasa jengkel dengan sikapnya.
Ternyata mas hanya mengetesku saja, apakah aku orang yang bersabar atau enggak. Mas juga sering meledekku dengan berkata "kamu mah jelek de" ujarnya melalui telfon saat malam itu.
Bukan tanpa alasan mas berbicara seperti itu padaku, mas hanya tak ingin aku menjadi orang yang sombong karna pujian. Makanya mas tak pernah memujiku.
Mas juga pernah berkata kalau aku adalah incaranya sejak dahulu mas bertemu denganku. Iya, pria yang datang kerumah nenekku, duduk dibangku rumah nenekku dan mengantarkanku ke stasiun adalah mas kabul.
Mas yang sejak saat itu membuatku terdiam karna kebaikannya. Bagaimana tidak, dari dulu sebelum aku mengenal pria aku ingin sekali memiliki seseorang yang sholeh, dewasa dan selalu memberikanku nilai positif dalam kehidupanku. Jelas ketika berkenalan dengan mas membuatku selalu bahagia. Nilai-nilaiku kian meningkat meskipun tak banyak.
Saat ulangtahunku ke 19 tahun. Mas datang kerumahku, mas tak datang sendiri mas datang bersama temannya. Mas membuktikan kalau ucapannya tak hanya bercanda. Yang kusangka mas tak akan datang, ia malah datang jauh-jauh dari kebumen.
Memang ia tak langsung menuju rumahku sesampainya di jakarta, melainkan ia menjenguk neneknya yang sedang mengalami kecelakaan.
Pas banget ulangtahunku pada malam minggu. Entah mengapa, haru perasaanku melihat perngorbanannya. Mas tak mulus datang kerumahku, ia sempat tersasar namun akhirnya dengan modal nekat ia sampai dirumahku.
Cukup lama mas berada dirumahku, dari pukul setengah 4 sore sampai pukul setengah 12 malam. Saat itu juga turun hujan, jadi sekalian berteduh.
Saat dirumahku mas lebih sering mengobrol dengan orangtuaku. Hanya beberapa kali saja mas dan aku menyapa.
Entah kenapa aku malu sekali melihatnya, aku gemetar. Jantungku berdetar kencang, aku menjadi salah tingkah saat itu.
Saat potongan kue, aku juga memberikan potongan kedua kepada mas.
Setelah beberapa jam mas berada di rumahku, mas berpamitan hendak pulang. Sebelum pulang aku meminta untuk di fotokan bersama mas dan beberapa orang temanku. Mungkin itu permintaan terakhirku kali ya...
Sebulan berlalu setelah kehadiran mas. Aku memulai statusku menjadi LDR dengan mas. Bukan hal yang mudah bagiku dan mas menepis semua omongan tak enak yang kami dengar dari orang-orang disekitar kami.
Sebulan berlalu..
Aku pulang kembali ke desa, kali ini dengan harapan bertemu dengan mas. Mas yang telah menantikanku dikotanya.
Saat aku didesa mas juga menemuiku pada malam minggu. Saat itu hujan pula. Mas tak datang sendiri, ia datang dengan temannya di desa.
Percakapanku cukup banyak saat pertemuan ini. Saat saudara mas mampir dirumah nenekku. Mas sempat memberikanku uang sebesar 100rb, ia meledekku dengan berkata "Nih de, di cicil dulu ya" ujarnya padaku.
Keesokan harinya..
Mas mengajakku pergi kesuatu tempat, istimewa sekali. Rumah saudaranya hmmm...
Bayangkan saja keadaanku saat itu, aku gugup diam seperti patung malu sekali.
Beberapa orang banyak yang bertanya padaku dengan bahasa jawa namun mas yang menjawab pertanyaan mereka padaku.
Saat di hidangkan makanan, akh tak ingin makan. Tapi mas memaksaku dan mengambilkan makanan untukku. Sebelumnya kami di hidangkan teh manis. Teh manis punyaku disemutin lalu mas meledekku dan berkata "semut aja tau ya de mana yang manis" ujarnya padaku.
Kami menunaikan sholat magrib dirumah saudara mas. Aku dan mas memakai sajadah yang sama saat sholat.
Setelah pengajian dimulai aku dan mas, menuju kamar. Lalu seketika kami diam dan mas berkata "De mas mau kedapur, mau bantu-bantu kamu mau disini aja atau ikut" ujarnya. "lia ikut mas" ujarku. "kenapa de, takut ya sendirian disinj" ujarnya meledeku lagi.
Saat itu aku dan mbah-mbah nya berada di dapur bersama-sama. Waktu itu mbah mas sempat meledeku "kenapa neng isin ya? Ora usah isin-isin, kan kalau jodoh ketemu saya lagi" ujar mbah nya. Seketika mataku dan mata mas langsung bertatap kaget.
Setelah pengajian selesai aku dan mas segera pulang. Meskipun dengan keadaan masih gerimis.
Saat diperjalanan pulang, ditengah dingin malam desa itu, gerimis dan jalanan yang gelap. Aku berkata "mas jangan kenceng-kenceng lia takut mas" ujarku.
Lalu mas menghentikan motornya, dan menyuruhku menaruh berkat yang kuvawa kedalam jaketnya. Aku disuruh berpegang dikedua belah jaket mas.
Kami tak langsung kembali pulang. Mas mampir untuk membelikanku martabak telor. Tak hanya sebungkus, ia membelikanku sebanyak 3 martabak telor. Aku membelinya di pinggir alun-alun kebumen. Aku duduk dipinggir pertokoan.
Banyak yang mas ceritakan saat kami saling berdampingan. Mas juga sempat menanyakan keadaanku yang sedari tadi mengelap-elap wajah. Aku memang tak biasa berjalan jauh tanpa menggunakan jaket tebal, dadaku pasti sesak. Setelah selesai membeli martabak. Aku dan mas mampir kembali kerumag teman mas, untuk mengambil uang.
Aku tak berani bertanya uang apa. Aku hanya mengikuti mas saja. Sesampainya dirumah teman mas pun, aku ingin terpeleset karna lantai yang basah. Tanpa sadar saat aku ingin terpeleset ada tangan yang menopang tanganku.
Lalu aku kembali melanjutkan perjalan pulang. Saat di perjalanan, helmku tak dapat dikunci. Mas memberhentikan motornya, dan membantu membenarkan helmku.
Ada kejadian paling indah yang kurasa saat ini, semua berasa so sweet hehee
Saat menaiki gunung, ada tangan yang merengkuh tanganku, mengapainya lalu melepaskannya kembali.
Aku sampai dalam keadaan basah kuyup, dengan baju dan jilbab yang basah karna hujan yang mengguyur kebumen. Aku terlalu lelah sampai aku tak menemai mas sampai ia pulang.
Keesokan harinya..
Aku akan pulang kembali ke kotaku. Dua hariku berada di kebumen membuat kenangan yang sulit aku lupakan hingga saat ini.
Aku sempat ingin berpamitan pada mas, namun mas tak bisa ia sedang ada acara di desanya. Namun tanpa kuduga mas datang menemuiku, bersaliman dengan harapan kelak kita akan bersama selamanya. Itu harapanku saat meninggalkan kota cinta tersebut.
Sebulan berlalu.. Dua bulan berlalu.. Hingga bulan april berlalu..
Tepat dimana hubunganku dengan mas berada diujung tanduk. Ya, hubungan kamj tak dapat diselamatkan, karna orangtua mas yang tak memberikan restu.
Oiya mas pernah sekali berkata serius padaku. "de kamu mau nggak jadi istri mas" ujarnya. Tanpa keraguan aku berkata "lia mau mas" ujarku mantap.
Karna bagiku dan mas restu orangtua adalah kebahagiaan untuk hubungan kami. Makanya mas memilih mundur, mengalah dan memilih wanita lain untuk bersanding dengan nya dipelaminan.
Suratku...
Mas andai hari ini hari terakhir aku melihatmu
Ijinkan aku meminta pada Tuhan untuk menghentikannya sesaat
Mas jika memang aku bukan yang terbaik bagimu, dengan cara apa aku melupakanmu?
Mas.. Semua indah sanggat indah
Mungkin semua kenangan kita sudah kamu hapus dengan kenangan barumu
Mungkin kini aku tak bermakna dalam hidupmu
Sedih mas.. Setiap kali aku merindu
Hanya lewat tetesan air mata aku bisa rasakan rindu.. Dimana kamu mas? Dimana?
Mas haruskah aku hapus bahagiaku?
Tegakah kau hancurkan semua mimpi kita? Adilkah ini untukku?
Mas.. Ajari aku merelakanmu
Mas.. Ajari aku ikhlas
Aku tak kuat melihat pelaminan itu
Seakan mimpi buruk bagiku
Pelaminanmu dengan wanita lain
Mas... Beri aku alasan mengapa aku harus pergi?
Aku ingin melanjutkan hidupku
Namun hatiku tertahan padamu, kotamu, kenanganmu
Mas.. Andai semenit saja bisa kuputar aku tak ingin mau mengenalmu
Sakit mas.. Sakit rasanya..
Engkau meninggalkanku tanpa memperjuangkan cinta kita terlebih dahulu
Mas.. Kelak jika dunia tak bisa menyatukan kita
Kuharap akhirat bisa membuat kita bersatu
Mas.. Liaa sayang mas
For You Mas Kabul <3 {} :* :'((




0 komentar:
Posting Komentar