Tuhan andai hari ini hari terakhir aku melihat nya, ijinkan aku bertemunya untuk berkata aku (masih) mencintainya.
Hari ini tepat 7 bulan aku mengenalnya, kami sama sekali tidak mempunyai tanggal kapan kami bertemu dan membuat sebuah komitmen untuk bersama.
Ya, bagi ia tanggal itu bukanlah hal yang penting untuk dipermasalahkan. Yang terpenting hanyalah kesetiaan dan keikhlaskan kami untuk menjalankannya.
Kami berkenalan pada bulan September tahun 2012 yang lalu, sebelumnya kami sudah saling mengenal namun hanya sebatas perkenalan singkat saja.
Ya, karna disaat itu usiaku baru 15 tahun. Saat itu aku baru duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Aku mengenalnya disaat aku pulang ke kampung halaman orangtuaku di Kebumen, Jawa Tengah. Aku berkenalan dengannya melalui Buleku yang rumahnya berdekatan dengannya.
Laki-laki itu selalu menitipkanku sebuah salam kepada buleku untuk disampaikan kepadaku. Ya, aku hanya mendengar namanya dan mengenal sosoknya melalui buleku.
Sampai pada suatu ketika aku diajak untuk menginap dirumah buleku yang rumahnya berdekatan dengannya, disaat itulah awal permulaan kami bertemu kembali.
Laki-laki itu bernama Kabul Ariyanto, aku biasanya menyebutnya dengan sapaan mas.
Saat itu waktu sudah malam, aku sedang membantu sepupuku untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Saat itulah mas datang dan memanggil buleku.
"eh ada orang bekasi ya" sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya menjawabnya dengan sapaan sederhana "iya"
Kami hanya mengobrol sebentar, dan hanya perbincangan singkat yang mas tanyakan padaku.
Setelah pertemuan itu, hatiku merasa berdetak kencang. Aku merasa tersipuh malu saat tatapan itu mengarah kepadaku. Aku merasa salah tingkah menjawab pertanyaannya, meskipun kutau kalau itu hanya pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh kebanyakan orang, namun entah mengapa bagiku ada rasa yang tak biasa yang menjerat dan merengkuh hatiku saat perjumpaan itu.
Esok harinya, pagi-pagi sekali aku sudah diajak oleh buleku untuk mengambil air dimesjid dekat rumahnya. Setelah selesai mengisi air, aku bersiap untuk pulang kembali kerumah neneku.
Entah Tuhan pasti punya rencana indah, disaat aky sedang berkaca aku melihat seseorang mengendarai motor lewat dibelakangku, dan entah mengapa hatiku berdetak lebih cepat. Lalu ku perhatikan orang tersebut "sepertinya aku mengenalnya" batinku bicara.
Ya, dia adalah mas kabul yang semalem sempat berbincang bersamaku. Aduh kenapa bisa lupa sih sama mukanya, batinku mulai beradu.
Saat hendak pulang kerumah neneku, aku melewati sebuah balai desa. Disaat itulah aku melihatnya kembali, lagi lagi aku merasa degdegan seperti sedang saat ujian sekolah, bukan bukan ini jauh lebih degdegan dari ujian sekolah.
Setelah sampainya dirumah neneku, aku sontak bercerita kepada ibuku. Ya, semenjak aku dikecewakan beberapa bulan lalu aku lebih banyak menghabiskan cerita kepada ibuku.
Perasaan harapan pun mulai muncul dalam dadaku, berharap mas akan datang nenemuiku saat kepulanganku kembali ke Bekasi. Tapi nyatanya tidak, aku pun tidak mengetahui nomor ponselnya.
Sudah seminggu aku didesa, dan aku harus kembali pulang untuk melakukan aktifitasku di Bekasi.
Sebelum pulang aku berpamitan pada nenek, paman, bule dan sepupuku. Aku sempat berkata pada buleku "salam ya buat mas" ujarku pada buleku.
Aku kembali lagi ke kota kelahiranku, dengan perasaan haru dan bahagia yang baru mengapaiku saat dikampung halaman.
Beberapa minggu aku menunggunya, menunggu kabar beritanya.
Rasa berkenalan ini pun semakin terasa kencang terasa.
Akhirnya setelah penantianku beberapa minggu yang lalu, Tepat pada tgl 30 september, mas mengirimkan sebuah pesan singkat padaku "kemarin kok engga ikut pulang lagi de" ujarnya dalam sebuah pesan singkat siang itu.
Disaat itulah awal mula aku mengenalnya lebih dekat. Kami saling berpesan singkat, mas pun sering menelfonku. Kami saling bercerita, bercanda, bahkan mas sering meledeku dengan berkata "kamu mah jelek de" ujarnya saat meledeku.
Saat kami sudah teramat dekat, sampai pada akhirnya mas berkata padaku "kamu mau engga de ngejalanin sama saya?" ujarnya saat menelfonku. Tanpa ada rasa keraguan aku mengiyakannya. Saat itulah kami berkomitmen untuk setia dan ikhlas menjalaninya meskipun dengan jarak yang terpantang jauh diantara kami.
Sebulan berlalu..
kini sudah memasuki bulan Nopember bulan kelahiranku. Disaat itu aku mempunyai rencana untuk mengundang teman-teman dekatku untuk datang kerumahku. Seperti acara syukuran sajalah. Aku juga mengundang mas, namun kufikir aku tak ingin merepotkannya yang jauh jauh datang kesini untuk menemuiku.
Mas berangkat pada hari rabu dari kampung, ia tak berbicara padaku bahwa ia ingin ke Jakarta. Aku mengetahuinya setelah ia sudah sampai Purwokerto. Mas berkata padaku "melas de sama kamu, kamu pengen mas dateng tp mas engga bisa dateng" ujarnya.
Pada tanggal 17 Nopember. Saat itu hari ulangtahunku tepat pada hari sabtu malam minggu, mas datang menemuiku. mas tak datang sendiri ia bersama temannya. Dengan perasaan tak percaya ia sampai dirumahku dan menemui kedua orangtuaku.
Entah mengapa melihatnya aku tak pernah sanggup, rasa gugup dan degdeganku bahkan tak bisa kuatasi. Aku serasa melayang terbang ke angkasa.
Rasa syukur terus kupanjatkan karna kebahagiaan yang Tuhan berikan padaku.
Saat acara potong kue ulangtahun, aku berikan kue pertama kepada ibuku, ibu yang memberikan selalu doanya sampai detik ini aku masih disini. Saat potongan kue kedua aku berikan kue tersebut kepada mas.
Dua jam telah berlalu..
Setelah selesai acara tersebut, mas masih berada dirumahku. Ia masih bercengkerama dengan teman yang kukenal baik, namanya okky.
Okky adalah salah seorang temanku yang sangat mengetahui ceritaku dengan mas, betapa senang hati ketika aku bisa mempertemukan mas dan temanku.
Tepat pukul 11.30 malam mas dan temanku berpamitan pulang..
Sebelum mas pulang aku sempat meminta untuk berfoto bareng dengan mas dan yang lainnya. Ya, keinginanku pun terkabul, aku bisa berfoto dengannya dengan ia orang yang kini membuatku bahagia.
Beberapa bulan berlalu..
beberapa bulan pula kulalui tanpanya (kembali). Ia disana dan aku disini. Akhirnya kami menjalani komitmen dengan hubungan jarak jauh.
Tanggal 27 Desember aku berangkat dari Bekasi menuju kampung halaman. aku pulang kembali ke kampung halaman orangtuaku, Kebumen Jawa Tengah.
Sesampainya disana pada hari sabtu siang, malam harinya setelah kukabari bahwa aku sudah sampai mas datang kerumahku bersama temannya.
Disaat inilah aku berbincang banyak dengannya, mas banyak menatapku diam diam, walau pada akhirnya aku melihat tatapan matanya itu. Kami saling berbincang, sampai ia menulis sebuah pertanyaan kepadaku melalui ponselnya "besok mas mau ajakin jalan, kamu bisa engga?" sambil memperlihatkan nya padaku. Aku segera mengiyakan ajakannya tersebut.
Aku menemani mas mengobrol hanya hingga pukul 22.00 setelah itu aku berpamitan untuk masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya..
mas menjemputku, saat itu sore hari. Kufikir aku akan dibawanya kesebuah sawah, namun ia mengajaku kerumah saudaranya, saat itu ada kejadian yang sangat lucu. Saat akan menaiki sepeda motor yang dikendarai mas, aku tak bisa menaikinya, sampai ia berkata padaku "pegangan sini aja de" sambil menujuk kearah pundaknya.
Entah rasa bahagia sebagaimana yang aku rasakan, aku rasa Tuhan telah memberikan bahagia yang sanggat luar biasa saat ini. Pergi dengan laki-laki yang kucintai, di iringi dengan restu dan atas ijin orangtuaku.
Perasaan syukur itu tak pernah henti kuucapkan dalam hatiku "Ya Allah aku mohon jangan ambil bahagia ini, terimakasih telah memberikan ia rasa bahagia yg tak pernah kurasakan sebelumnya" ujarku dalam hati.
"de kita kerumah saudara mas dulu ya" ujarnya padaku dimotor. Aku hanya mengiyakan ucapannya saat itu.
Sesampainya dirumah saudara mas, aku disambut dengan suka cita. Mereka sangat baik padaku, aku dipersilahkan duduk, bahkan aku dipersilahkan untuk makan sore. Walau sebenarnya aku sudah makan sebelumnya.
Mas memperkenalkanku sebagai seseorang yang dekat dengannya saat itu, mbah nya pun baik dan sanggat ramah padaku.
"Bul calone ya?" ujar mbah nya. Mas hanya menjawab dengan sederhana "dereng mbah"
Sampai pada budenya datang, aku mengajaknya untuk pulang karna aku merasa malu ketika itu.
Ternyata dirumah saudara mas, sedang ada kendurenan seperti pengajian atau selamatan ketika anak laki-laki selesai di khitan.
Mas sibuk untuk membantu saudaranya yang menyiapkan pengajian, aku pun ikut membantu walau aku sama sekali tidak mengerti harus memulainya dari mana. Aku hanya membantu mengelar tikar yang akan dipakai duduk untuk pengajian nanti.
Sebelum acara dimulai, mas mengajakku untuk shalat magrib, mas yang dahulu mengambil air wudhu setelah itu aku bergantian untuk mengambil air wudhu. Kami sholat ditempat yang sama, sajadah yang sama. Dan kami bersujud ditempat yang sama.
Sungguh hal ini yang tak pernah kurasakan selama aku mengenal seorang laki-laki. Perasaan yang sungguh luar biasa bahagia yang kini sedang bersemayam dalam hatiku.
Lalu setelah selesai merapihkan tikar, aku diajak mas untuk menuju dapur bersama yang lainnya. Mas sempat meledeku ketika ada bangku kecil, orang jawa biasa menyebutnya dengan jengkok. "sini neng neng duduk sini, tau engga ini apa? Engga ada kan dirumah kayak gini" ujarnya meledeku. Aku hanya tersipuh malu
Setelah selesai pengajian aku segera pulang, aku pun berpamitan dengan saudara mas. Saat itu malam pukul 8. Aku bersaliman dengan satu persatu keluarganya.
Mbahnya pun berpesan "hati-hati bul pelan pelan naiknya bawa cewe" ujar mbahnya. Saat di motor aku berpesan padanya "mas jangan kenceng kenceng ya, lia takut" ujarku. Lalu mas menjawabnya "kalo takut pegangan aja de, berkatnya taruh di depan aja biar kamu bisa pegangan" ujarnya padaku.
Lalu aku berpegangan di kedua baju jaketnya, sebelum pulang aku sempat mampir untuk membeli martabak telur didekat alun-alun Kebumen.
Saat kami pulang, memang keadaan sedang hujan. Dan saat itu mas hanya membawa satu jas hujan saja. Ya akhirnya aku yang kebasahan.
Sebelum pulang kami mampir ke alun-alun Kebumen. Kami duduk dipinggir ruko pemasaran depan alun-alun, mas mulai bercerita kepadaku tentang apa yang ia ingin ceritakan. Aku mendengarnya sambil tersipu malu ketika ia berada tepat di sebelahku.
"de mas ini orang desa, mas engga bisa memberikan kamu berlebihan tp insya Allah mas bisa mencukupi kamu. Kamu fikirkan dulu karna cinta itu bukan cuma soal hati kan perlu makan juga" ujarnya jelas padaku. Aku hanya terdiam tersipu gugup, aku tak bisa berkata hanya mampu ku utarakan lewat senyum kecilku.
Ada perhatian kecil yang mas berikan padaku saat malam itu.
Saat sedang hujan ia menyuruhku untuk duduk dipingir gerobak tukang martabak yang ada terpalnya. Mas takut aku akan kehujanan dan sakit nantinya. Bagaimana tidak ini adalah jalan pertama kami berdua, kami tidak pernah bertemu hanya bertemu lagi setelah kami saling mengenal.
Setengah jam pun berlalu..
Kami melanjutkan perjalanan kembali
Disela perbicangan kami dimotor mas sempat berkata padaku "kalau kamu bisa ngelewatin ini semua, kamu sudah dewasa" ujarnya padaku.
Setelah selesai, kami tidak langsung pulang kami mampir ke tempat salah seorang teman mas yang rumahnya tidak jauh dari pasar Kejawang.
Aku menunggunya diluar, lalu mas memanggilku "sini de jangan disitu nanti kamu ilang" ujarnya. Lalu aku mendekat pada mas, disaat itu aku ingin terjatuh karna lantai yang licin, kebetulan saat aku pulang memang sedang hujan.
Saat aku ingin terpeleset, mas sempat memegang tanganku. Dan aku mengapainya. Saat hendak dibuatkan teh, aku tidak meminumnya, tehku pun dipindahkan di gelasnya mas.
Setelah 30menit berlalu..
Setelah itu aku pulang naik kerumah neneku, kebetulan rumah neneku berada diatas gunung. Sebelum naik keatas gunung, aku sempat meminta tolong padanya untuk membetulkan helmku yang tak bisa terkunci.
Lalu ia berhenti dan membenarkan helmku, cukup lama kami berada dibawah tanjakan itu. Lalu kami menaiki gunung, aku selalu berpegangan dipinggir kanan dan kiri jaketnya.
Saking tak beraninya aku melihat kegelapan malam, aku sampai tak melihat keadaan di sekelilingku ketika sedang dibonceng. Aku malah sibuk beristigfar sambil terpejam mataku. Sampai suatu ketika aku melihat sebuah tangan mengapaiku, memegangku lalu melepaskannya kembali.
Setelah sampai dirumah neneku, lalu aku langsung menganti bajuku yang basah, aku pun sempat membuatkan mas kopi sebelum akhirnya aku ketiduran.
Malam itu terasa indah, menghabiskan setengah hariku bersama orang yang kini kucintai.
Keesokan harinya, aku harus pulang kembali ke Bekasi. Ketika aku ingin pulang, aku sempat ingin berpamitan padanya, namun ia tak bisa dan ada keperluan didesanya. Ya, kifikir aku masih bisa mengapai tangannya, namun tak bisa.
Sebelum aku berpamitan, aku mampir kerumah mbahku (anaknya mbah uyutku) yang ada dibawah rumah neneku, ketika itu dari arah kanan motor mas berhenti, ya ia datang menemuiku hanya untuk melihatku pulang dan berpamitan.
Aku bersaliman dengannya, mas sambil berkata "hatihati ya de" ujarnya sambil kubersalaman. Lalu aku pergi dengan perasaan aku ingin kembali lagi, membawa cerita baru.
Setelah beberapa bulan berlalu, kami memulai hari kembali di tempat yang berbeda. Aku disini dan ia disana.
4 bulan lagi, mas akan ulangtahun. Tepat pada tanggal 1 april.
Saat kami berada di dalam kejauhan, tapi aku berusaha untuk tetap mengingatnya. Dan mengucapkan selamat ulangtahun padanya.
Kukirimkan sebuah pesan singkat padanya subuh itu "selamat ulangtahun ya mas, semoga mas panjang umur, dan tambah sholeh" ujar pesan singkatku.
Dua minggu berlalu..,
Ia hilang tanpa kabar dan pesan, tiba tiba ketika aku berpesan singkat padanya menanyakan kabar. Tersirat sebuah pesan yang sekita membuatku lemas tak bertulang.
Padahal seminggu yang lalu ia masih menelfonku, aku masih bercerita dan ia masih meledeku.
"mas lagi ada masalah sama orangtua mas, tentang hubungan kita. Mas engga boleh dapat orang jauh. Mas bingung mas pusing" ujarnya saat malam sabtu itu.
"de ma'afin mas, sakit hati itu sakit
rasanya. Mas engga mau kamu sakit hati, mungkin mas cuma bisa anggap kamu ade, engga bisa lebih" ujarnya padaku. Seketika hatiku remuk seperti dicabik-cabik entah mengapa aku berasa sedang tersengat aliran listrik yang sanggat sakit.
Diam diam diam hanya itu yang bisa aku lakukan ketika nendengar kabar itu, perasaanku menjadi hancur berantakan.
Setelah kejadian itu, mas mulai semakin berubah. Ia semakin menjauh lebih jauh dari ketika hubungan kami masih baik baik saja.
Ia hanya mengabarkanku sebulan sekali, itu pun tak mesti. Selama 3bulan ia berbeda jauh berbeda, sepertinya aku tak ada lagi dalam hidupnya.
Sehari sebelum bulan ramadhan tiba, ia sempat menelfonku dan meminta maaf jikalau ia ada kesalahan. Kami pun berbicara hanya sekedarnya saja, seperti biasa ia hanya mengabarkan yang terjadi di desa saja.
Sebulan telah berlalu.
Hari ini aku akan pulang ke kampung halaman orangtuaku, tempat dimana pertama kali aku bertemu dengannya. Disaat itu pulalah harapanku datang kembali, berharap ia masih mengingatku dan menemuiku.
Namun harapan hanyalah harapan, semua sirna seiring dengan hari yang kian berlalu. Ketika itu aku sedang menengok buleku, iya dia buleku yang pertama kali memperkenalkan mas padaku.
Saat lebarab pertama aku datang kerumah buleku. Aku berkunjung main kerumahnya, yang kebetulan rumah mas pun dekat dengan rumahnya. Melihat rumahnya saja sudah menjadi rasa syukur yang indah meskipun aku tak bertemu dengan sang pemilik rumahnya.
Tibalah aku harus meninggalkan desa, dan aku harapanku pun pupus.
Aku pergi kembali, kali ini bukan dengan cerita melainkan dengan harapan yang sirnah.
5hari sudah berlalu aku di desa..
Setelah kembalinya aku di Bekasi, aku masih sempat menghubungi mas. Tapi tak pernah ada balasan. Aku selalu mencoba berdiam, karna cuma itu yang bisa aku lakukan.
5hari setelah lebaran, aku mendapat sebuah pesan singkat dari sepupuku didesa. "mba, mas kabul udah ngelamar cewe kemarin" ujar sepupuku. Sontak aku terdiam, aku masih terdiam, sampai pada akhirnya aku memangil ibuku dan bercerita mengenai kabar tersebut.
Ibuku hanya terdiam dan menguatkanku, sambil berkata "bukan jodoh, engga usah ditangisin cowo kayak gitu" ujar ibuku. Sontak tangisiku semakin kencang, aku semakin menjerit merintih Ya Rabb jangan sekarang, teriaku dalam hati.
Sehari setelah kabar itu, aku menelfonya untuk menanyakan kebenaran tersebut, ternyata memang benar ia sudah akan segera menikah.
Terlebih lagi ketika aku menanyakan janjinya yang ingin mengajaku jalan jalan di desa, bukan jalan jalan nya tapi ucapannya yang berkata "nanti mas bilang sama cewe mas" cewe mas ?
Bukankah aku ceweknya, bukan bukan calon nya. Aku hanya masa lalunya.
Sampai hari ini pun, sampai detik ini aku menuliskan sebuah cerita ini, aku masih merindukan sosoknya. Sosok pria sholeh yang selalu menenangkan batinku ketika aku butuh.
Entah sampai kapan aku akan menikmati rasa ini, rasa yang terus mengelayut dalam dadaku. Rasa yang harus segera kuhapuskan bukan karna ia menyakitiku tapi karna ia akan meninggalkanku.
Untukmu sang pria sholeh..
Bila memang tuhan telah berhenti menyatukan kita
Aku hanya meminta semoga ini yang terbaik
Perpisahan yang indah teramat indah
Yang akan selalu kubingkai dalam barisan syairku
Tuhan berilahkanlah ia kebahagiaan seperti ia pernah memberikan aku bahagia
Kutitipkan ia padamu Ya Rabb
Aamin Aamin Aamin
Tgl. 14-08-2013
Ini adalah tanggal ketika ia melamar wanita lain, wanita pilihan nya. Yang rumahnya tak berada jauh sepertiku.
Nur Amaliya hasanah
Bekasi




0 komentar:
Posting Komentar